Minggu, 08 Maret 2015

REFLEKSI HASIL DISKUSI KELOMPOK 2

(Linguistik Kritis Vs Analisis Wacana Kritis) 
Disusun oleh:
IRWAN FADLI
P0500214003

Bahasa tidak hanya sebagai alat atau media komunikasi, tetapi juga dapat digunakan untuk menganalisis suatu masalah atau gejala sosial yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat.
Dalam persentasi kelompok dua, pemateri memaparkan sebanyak empat pokok permasalahan yang didiskusikan. 
  • Pertama, menjelaskan maksud atau pengertian atau pun defenisi mengenai linguistik kritis dan analisis wacana kritis. 
  • kedua, menjelaskan perbedaan antara analisis wacana dan analisis wacana kritis.
  • Ketiga, menjelaskan prinsip-prinsip umum dalam wacana kritis. 
  • Keempat, memberikan beberapa pendekatan utama dalam upaya menganalisis wacana kritis.

Telah dipaparkan bahwa linguistik kritis merupakan kajian ilmu bahasa yang menganalisis mengenai hubungan-hubungan kekuasaan tersembunyi beserta berbagai proses ideologis yang terdapat dalam teks lisan maupun tulisan. 

Untuk membedakan antara analisis wacana dan analisis wacana kritis, dapat diketahui berdasarkan: 

a. analisis wacana, sebagai contoh; keadaan yang rasis (Perbedaan Ras) , seksis, atu ketimpangan dari kehidupan sosial dipandang sebagai suatu common sense, suatu kewajaran/alamiah, dan memang seperti itu kenyataannya. 

b. Analisis wacana kritis melihat bahasa sebagai faktor penting yakni bagaimana bahasa digunakan untuk melihat ketimpangan kekuasaan yang yang terjadi di masyarakat. 

Analisis wacana kritis memiliki beberapa prinsip dalam perannya mengkaji persoalan wacana publik. Perinsip tersebut adalah sebagai berikut: 
  • Analisis wacana kritis berhubungan dengan masalah sosial. 
  • Analisis wacana kritis mengkaji kekuasaan dalam wacana dan atas wacana. 
  • Budaya dan masyarakat secara dialektis berhubungan dengan wacana masyarakat dan budaya dibentuk oleh wacana dan sekaligus menyusun wacana. Setiap kejadian tunggal penggunaan bahasa memproduksi dan mentranformasi masyarakat dan budaya, termasuk relasi kekuasaan. 
  • Penggunaan bahasa bisa bersifat ideologis, untuk memastikannya teks perlu dianalisis guna meneliti interpretasi, penerimaan dan efek sosialnya.
  • Wacana bersifat historis dan hanya bisa dipahami terkait dengan konteksnya. 
  • Hubungan antara teks dan masyarakat itu bersifat tidak langsung tetapi termanifestasi melalui perantara, seperti modelsosiso-kognitif yang kita kembangkan, sebagaimana yang dikemukakan dalam model pemahaman teks secara sosiopsikologis. 
  • Analisis kritis menyiratkan adanya suatu metodologi sistematis dan hubungan antara teks dan kondisi sosial, ideologi, dan relasi kekuasaan. Interpretasi senantiasa bersifat dinamis dan terbuka bagi konteks dan informasi baru. 
  •  Analisis wacana kritis dipahami sebagai sebuah disiplin ilmu ilmiah sosial yang eksplisif antara fokus perhatiannya dan cenderung menerapkan penemuannya pada permasalahan praktis
Selain beberapa prinsip yang telah dikemukakan, berikut telah ditambahkan beberapa pendekatan sebagaimana yang telah dipaparkan oleh pemateri: 

1. Pendekatan analisis bahasa kritis
Inti dari analisis bahasa kritis adalah melihat bagaimana gramatika bahasa membawa posisi dan makna ideologi tertentu, atau dengan kata lain bahawa aspek ideologi itu diamati dengan melihat pilihan bahasa dan struktur tata bahasa yang dipakai. 

2. Analisis wacana pendekatan prancis
Pendekatan ini menekankan bagaimana seseorang ditempatkan secara imajiner (pengkhayal) dalam posisi tertentu, wacana menyediakan efek ideologis berupa pemosisian ideologi seseorang. 

3. Pendekatan kognisi sosial
Pendekatan ini melihat faktor kognisi (pengamatan) sebagai elemen penting dalam produksi wacana, tetapi juga menyertakan bagaimana wacana itu diproduksi. 

4. Pendekatan perubahan sosial.
Pendekatan ini memusatkan perhatian pada bagaimana wacana dan analisis sosial. Wacana disini dipandang sebagai praktik sosial ada hubungan dialektis (sesuai dengan kenyataan) antara praktik diskursif terebut dengan identitas dan relasi sosial, wacana juga melekat dalam situasi, institusi dan kelas sosial tertentu. 

5. Pendekatan wacana sejarah
Pendekatan ini bertujuan menunjukkan bagaimana wacana seksisme, antisemit, rasialisme, dalam media dan masyarakat kontemporer. Wacana ini dapat berupa penggambaran yang buruk tentang rasis atau suatu kelompok , menurutnya terbangun lewat prroses sejarah yang panjang, prasangka, bias, misinterpretasi, dan sebagainnya harus dibongkar dengan melakukan tinjauan sejarah karena prasangka ituadalah peninggalan atau warisan lama yang panjang. 

Melalui pemaparan pemateri dalam diskusi kedua ini, dapat ditarik bebrapa pengetahuan baru bagi setiap peserta diskusi. Yaitu; pengetahuan mengenai maksud atau pengertian atau pun defenisi mengenai linguistik kritis dan analisis wacana kritis, perbedaan antara analisis wacana dan analisis wacana kritis, beberapa prinsip-prinsip umum dalam wacana kritis, serta beberapa bentuk pendekatan utama dalam upaya menganalisis suatu wacana secara kritis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar